Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Home

Siapakah Yesus? PDF Print E-mail
Written by Helda Siahaan   
Wednesday, 11 February 2009

 

Satu pertanyaan sederhana yang sedang mewabah di dunia: SIAPAKAH YESUS??

 

Selama dua milenium umat Kristen menyebut Dia Mesias, Kristus, Anak Allah yang hidup. Tetapi akhir-akhir ini cukup banyak usaha dari berbagai kalangan, mulai dari lingkungan akademik dan pakar studi Biblika sampai kalangan profesional perfilman dan penulis buku populer, untuk meredefinisikan Yesus. Dengan kata lain, mereka berupaya ‘menurunkan’ Yesus dari tahtaNya selama ini. Lebih menarik lagi, upaya ini tidak dilakukan diam-diam di balik layar, melainkan dengan kemeriahan liputan media massa yang seolah-olah menghadirkan berita pencerahan terbaru yang mencelikkan mata!

Siapakah sebenarnya Yesus dari Nazaret? Apakah kesaksian sejarah tentang Dia? Bagaimanakah kesaksian itu tiba pada kita? Inilah salah satu topik perdebatan di balik kemeriahan tadi. Apa yang kita ketahui tentang Yesus berawal dari ingatan mereka yang pernah berjalan bersamaNya, menyaksikan tindakan-tindakanNya, dan mendengarkan perkataanNya. “Membicarakan memori tentang Yesus berarti pada saat yang sama berbicara tentang Yesus dan juga tentang mereka yang mengingat Dia serta meneruskan ingatan itu kepada orang-orang lain, yang kemudian merangkumnya dalam bentuk tulisan.” (Nils Dahl, Jesus in the Memory of the Early Church)

            Perdebatan mengenai memori tentang Yesus kini telah berkembang menjadi dua versi cerita tentang Yesus yang berbeda secara fundamental: cerita Kekristenan dan cerita Jesusanity. Buku Dethroning Jesus membahas perdebatan ini secara mendalam, menelusuri kebangkitan salah satu versi cerita dalam budaya masa kini, menganalisa tuntas apa yang dipertaruhkan oleh masing-masing cerita, dan menyimpulkan melalui argumentasi yang kuat apakah dokumen kita saat ini tentang Yesus membawa kita pada Yesus yang sejati. Tulisan ini adalah cuplikan bebas dari terjemahan buku tersebut, dan akan terdiri dari beberapa bagian.Image

 

KEKRISTENAN versus JESUSANITY

Kekristenan beriman kepada Yesus Yang Diurapi, yang diutus dari surga. Kristus dalam bahasa Yunani dan mesias dalam bahasa Ibrani sama-sama berarti “yang diurapi.” Kekristenan percaya Yesus diurapi Allah untuk mewakili Allah dan manusia dalam pemulihan relasi yang rusak antara Pencipta dan ciptaanNya. Yesus adalah satu-satunya jembatan antara Allah dan manusia. Tidak seorang pun seperti Dia. Tidak seorang pun pernah atau akan pernah memiliki panggilanNya.

Yesus memberitakan dan mengajar tentang kerajaan Allah, serta bekerja keras memperlihatkan kehadiran kerajaan Allah. Kedatangan Yesus adalah awal kedatangan kerajaan Allah. Yesus datang untuk mengundang dan memungkinkan manusia masuk ke dalam kerajaan Allah. Sesungguhnya, inti isi iman Kristen adalah jalan masuk kepada Allah yang disediakan oleh Allah melalui Yesus. Kekhususan Yesus dinyatakan dalam penyaliban dan kebangkitanNya. Kebangkitan Yesus merupakan tindakan pembenaran dan pengesahan ilahi bagi Yesus yang ditahtakan di sisi Allah.

        Jesusanity adalah istilah untuk cerita lain tentang Yesus dari Nazaret yang menunjukkan jalan kepada Allah dan membawa manusia masuk ke dalam perjalanan bersama Allah. Ia adalah guru yang berkuasa, penunjuk jalan dan teladan yang agung. Kekhususan Yesus dinyatakan dalam pemahamanNya tentang keberadaan manusia dan pencerahan yang dibawaNya. Inti kepercayaan Jesusanity adalah Yesus sebagai inspirasi dan teladan bagi ‘sesamaNya’ manusia. Ia mungkin yang terbaik di antara banyak pribadi yang agung, tetapi tidak lebih dari itu. Tidak ada tahta bagiNya.

Jesusanity sering mempertanyakan gambaran Yesus dalam Alkitab, dan berusaha menghasilkan potret Yesus lain yang, juga, layak dihormati tetapi berbeda esensi. Selain itu, Jesusanity tidak hadir dalam satu bentuk pemahaman, melainkan dalam banyak kemasan. Tetapi faktanya, berbagai buku populer, tayangan film dokumenter dan talk show di televisi tentang Yesus dari sudut pandang Jesusanity ‘rajin’ membanjiri ruang-ruang publik dan semakin menyedot perhatian serta mempengaruhi pandangan masyarakat setengah abad terakhir ini.



PENEMUAN INJIL-INJIL RAHASIA

Penemuan sejumlah manuskrip dari abad kedua dan ketiga di Nag Hammadi pada tahun 1945 berdampak sangat besar. Para ahli studi Biblika dapat membaca dengan mata kepala sendiri beberapa injil rahasia yang sebelumnya hanya diketahui melalui kritik para bapa gereja. Akibatnya, cukup banyak argumentasi dari sudut pandang Jesusanity yang mendesak agar injil-injil ini dimasukkan ke dalam Alkitab, dan bahkan agar gereja merevisi sejarah awal Kekristenan! Manuskrip yang paling banyak dipermasalahkan adalah Injil Tomas dan Injil Yudas. Keduanya dibahas secara rinci dalam buku Dethroning Jesus dan ditinjau sekilas dalam bagian lain dari tulisan ini.

 

EMPAT PERCERAIAN PENTING

Salah satu cara memahami perbedaan antara Kekristenan dengan Jesusanity adalah dengan menganalisa empat pemisahan penting.

Pemisahan pertama adalah perceraian antara Pencipta dan ciptaan. Konsep paling mendasar dalam Kekristenan adalah pemahaman bahwa manusia adalah ciptaan ilahi yang dipanggil untuk bertanggung jawab kepada Penciptanya. Tanggung jawab ini bukan sekedar komitmen pada etika hidup saleh atau berkehendak dan berusaha melakukan kebaikan. Jauh lebih dari itu, manusia sebagai ciptaan dipanggil untuk mencari relasi dengan Allah yang telah mewahyukan kehendakNya.

Jesusanity mereduksi relasi Pencipta-ciptaan menjadi hanya suatu panggilan etika untuk berlaku lebih baik kepada sesama manusia. Panggilan ini memang bagian yang penting dalam ajaran Yesus (dua perintah utama). Tetapi jika perintah kedua, mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, menghilangkan perintah pertama untuk mengasihi Tuhan dengan segenap keberadaan diri, maka kata “Tuhan” direduksi menjadi sekedar suatu gambaran yang diinginkan manusia. Gambaran atau simbol ini mungkin dapat memotivasi, tetapi di dalamnya tidak ada relasi dengan Allah yang hidup.

Akibatnya, hidup didefinisikan dalam ukuran kebebasan dan otonomi pribadi. Kebebasan dari kelekatan terhadap Tuhan dan sesama menjadi ukuran utama bagi hidup dan dasar pengambilan keputusan-keputusan dalam hidup. Tidak bertanggung jawab kepada Tuhan akhirnya sama dengan tidak bertanggung jawab kepada siapa pun, kecuali saya memilih untuk bertanggung jawab. Kekristenan menamakan ini penyembahan berhala, karena menghapus tanggung jawab utama untuk hidup menghormati Tuhan yang adalah Pribadi nyata dan berkuasa dalam dunia kita.

Perceraian kedua memisahkan Tuhan dari potensi wahyuNya untuk membuat kita bertanggung jawab. Alkitab adalah sebagai ekspresi utama kehendak Allah bagi ciptaanNya, yang diwahyukan dalam kata-kata yang dibingkai dalam konteks sejarah dan menyatakan bagaimana seharusnya umat Allah hidup.

Jesusanity berupaya merevisi gambaran atau menghasilkan potret Yesus yang berbeda dengan gambaran dalam empat Injil, yang selama ini diakui gereja sebagai gambaran paling akurat tentang Yesus karena berasal dari orang-orang terdekat Yesus. Hubungan antara Yesus dengan gambaran yang dihasilkan oleh pengikut-pengikutNya mempengaruhi cara pandang dan penilaian terhadap Yesus. Memisahkan Yesus dari gambaran tersebut sama dengan melihat dengan susah payah melalui kabut; yang terlihat hanya bayangan atau bahkan gambaran yang terdistorsi.

Padahal tidak harus serumit itu. Inti berita para pengikut Yesus selalu sama: Yesus datang dan mati, dibangkitkan oleh Allah dalam tindakan pembenaran yang unik. Yesus adalah penggenapan janji Allah tentang mesias dan Dia layak disebut Kristus. Tepat seperti kesimpulan Howard Marshall, seorang ahli Perjanjian Baru dari University of Aberdeen: banyak saksi, tetapi satu Injil.

Pemisahan ketiga adalah perceraian antara Yesus dengan kesaksian pengikut-pengikutNya dalam sejarah. Apakah peristiwa Paskah menyebabkan Yesus yang selama ini dikenal para murid “tiba-tiba berubah menjadi Kristus iman”? Atau peristiwa Paskah mengkonfirmasikan kepada para murid bahwa Ia adalah pribadi yang telah dikatakanNya sebelum itu? Inilah pemahaman Kekristenan. Apakah para pengikut Yesus menceritakan kisah hidup dan pelayanan Yesus yang sama sekali tidak sama dengan yang sebenarnya terjadi dalam sejarah? Inilah pandangan Jesusanity.

Perceraian keempat adalah antara seluruh berita Yesus dengan praktek gereja. Kesaksian hidup para ahli studi Biblika yang beralih dari Kekristenan ke Jesusanity berulang kali mengungkapkan salah satu penyebab yang sama: sikap tidak konsisten gereja. Seringkali gereja mengutamakan tujuan-tujuan politik sehingga melupakan, atau bahkan bertindak berlawanan dengan ajaran Yesus tentang uang, orang miskin, penghargaan dan kasih kepada sesama. Sikap tidak konsisten ini akhirnya mengubah dialog menjadi konflik budaya, menciptakan kesan (atau bahkan fakta) munafik, dan membisukan suara kenabian gereja di tengah masyarakat, termasuk jemaat dan diri sendiri.

Jesusanity mempertanyakan empat pemisahan ini dalam perdebatan dengan Kekristenan, dan mengakhiri dengan kesimpulan tentang Yesus yang sangat berbeda. Perdebatan ini hanya dapat dipahami dengan mempelajari klaim-klaim Jesusanity dan sumber-sumber dokumen Kristen. Tulisan selanjutnya akan menyinggung perdebatan aktual sekitar Yesus dan apakah kita harus meredefinisikan atau menggeser tempatNya semula dalam iman Kristen.

Last Updated ( Sunday, 10 January 2010 )
 
Next >