Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Home

Identifikasi Maria Magdalena Yang Rancu PDF Print E-mail
Written by Prof. April DeConick, Rice University   
Saturday, 23 February 2008

sumber: http://www.bib-arch.org

 

Berikut ini adalah refleksi Prof. April DeConick TERHADAP KONFERENSI PRINCETON THEOLOGICAL SEMINAR MAKAM TALPIOT

 

salam

Admin
 

IDENTIFIKASI MARIA MAGDALENA YANG RANCU

 

Prof. April DeConick, Rice University

 

Kamis, 17 Januari 2008


 

Ini adalah salah satu konferensi paling luar biasa yang pernah saya ikuti. Saya mendapatkan begitu banyak informasi tentang disiplin ilmu yang pada umumnya saya tidak banyak berinteraksi, termasuk statistik. Dalam konferensi ada waktu-waktu tegang – dan emosi yang tinggi, di mana banyak peserta konferensi berteriak-teriak dan menjadi sangat marah, secara khusus di antara para arkeolog yang memiliki pendapat yang bertolak belakang satu sama lain, dan mengenai terlibatnya media dalam disiplin ilmu mereka. Pada suatu saat, Professor Charlesworth harus mengintervensi dan meminta keteraturan dikembalikan.

 

Apa yang saya pelajari?

 

1.      Ada 2 profesor statistik dalam panel: Andrey Feuerverger (yang harus menciptakan metodologi baru untuk memecahkan persoalan dan sekarang telah mempublikasikan hasilnya yang panjangnya 100 halaman dalam jurnal statistik untuk diuji) dan kritikusnya yang sangat vokal, Camil Fuchs (yang merupakan salah satu penguji artikel Feuerverger). Statistiknya sangat menarik, dan segala sesuatunya tergantung dari Maria Magdalena menurut ke dua profesor ini – apakah Mariamenou kai Mara merujuk padanya. Jikalau dia ada “dalam” persamaan, statistiknya sangat mengejutkan, dua kali lipat lebih besar daripada yang telah disiarkan dalam film The Lost Tomb. Jika dia tidak dimasukkan ke dalam persamaan, maka angka-angka itu menjadi tidak signifikan secara statistik. Banyak peserta menginginkan Feuerverger untuk mencoba beberapa skenario dengan asumsi yang berbeda-beda, tetapi dia kelihatan enggan, karena penelitian ini telah memakan begitu banyak waktu dan komitmennya.

 

2.       Maka, segala sesuatu tergantung pada Maria Magdalena, seorang wanita. Panel mengenai Maria termasuk diri saya sendiri, Jane Schaberg, dan Ann Grahman Brock. Kesimpulan pribadi saya tentang Maria:

 

2.1   Menurut pendapat saya Mariamenou kai Mara tidak dapat dianggap sebagai pembacaan yang paling tepat. Ada beberapa persoalan yang besar dengan Mariame[noue] Mara, seperti yang telah disebutkan oleh Steven Pfann dan Jonathan Price. Tulisan itu lebih tepat dibaca: MARIAMEKAIMARA. Terjemahannya ada 2 kemungkinan. Yang pertama, adalah „Mariame dan Mara (=Marta)“, jika bagian akhir dari tulisan itu (KAIMARA) ditambahkan sesudahnya, sewaktu tulang-belulang orang yang lain ditambahkan ke dalam ossuary. Kemungkinan kedua adalah „Mariam, yang juga disebut Mara“, jika seluruh tulisan itu ditulis pada waktu yang sama. Beberapa orang dalam konferensi ingin mencoba bermain kata-kata dan berpikir apakah „Mariam, yang juga disebut Mara“ mungkin merujuk pada Maria sang Ibu, dan ossuary „Maria“ yang lain adalah milik salah satu adik perempuan Yesus (menurut Injil Filipus, Maria adalah nama ibunya, adiknya, dan pasangannya) atau Maria Magdalena.

 

2.2     Dalam pendapat saya, sangat diragukan bahwa Mariamene (yang disebut Rahmani sebagai asal nama Mariamenou) adalah nama Maria Magdalena. Huruf „E“ harus dihilangkan untuk menjadikannya Mariamne, seperti yang tercantum dalam Injil Filipus. Tetapi Mariamne dalam Kisah Filipus tidak secara pasti diidentifikasi sebagai Maria Magdalena; dalam manuskrip lain sepertinya dia dianggap sebagai Maria dari Betania, saudari Marta. Sebenarnya Maria Magdalena memiliki nama-nama yang sering digunakan untuk menyebutnya dalam sumber-sumber yang paling awal: Mariam, Maria, Mariamme, Mariammen, Mariamne, Maria he Magdalene (tetapi bukan Mariamene, sejauh pengetahuan saya – tolong dikoreksi jika saya salah).

 

2.3    Magdalena dalam literatur kita adalah Maria ingatan, bukan Maria sejarah. Saya mengkontraskan antara Maria enkratis (selibat wanita menjadi pria) dengan Maria Gnostic Valentinian (istri Yesus). Saya menjelaskan bagaimana Maria-Maria ini adalah hasil ingatan komunitas yang berfungsi di dalam lingkungan sosial-religius yang berbeda-beda. Pengetahuan awal tentang Maria yang sepertinya mereka pahami adalah tradisi bahwa Maria Magdalena adalah wanita yang tidak menikah, yang adalah murid Yesus, dan seorang pemimpin Kristen yang penting. Ini adalah penjelasan yang masuk akal tentang dia.

 

3.        Pada hari terakhir konferensi, saya bertanya apakah kemungkinannya hanya anggota keluarga saja yang ada dalam makam itu. Saya mendapat jawaban “ya” dari beberapa arkeolog, dan “tidak” dari beberapa arkeolog lain. Ketika mereka didesak terus, saya mendapat jawaban “kami tidak tahu”. Mengapa? Karena tidak semua ossuary diberi tanda mengenai hubungannya dengan orang yang meninggal. Rata-rata satu kotak tulang-belulang memuat 4-6 orang, dan kadang-kadang nama yang tercantum di kotak itu hanya satu. Periode cara penguburan dengan ossuary dalam makam “keluarga” ini sangatlah singkat. Pada abad ke-2, penguburan dalam katakombe lah yang lazim digunakan, kemungkinan terpengaruh oleh kebiasaan Romawi.

 

4.       Peristiwa KUNCI dalam konferensi ini adalah pada saat janda dari Joseph Gat (orang yang mula-mula menggali makam) menerima penghargaan seumur hidup yang diberikan Princeton untuk suaminya. Ia memberikan pidato yang mengagetkan kami semua. Telah dinyatakan berulang kali oleh para arkeolog bahwa tidak ada sesuatu pun yang istimewa dari kumpulan nama-nama pada ossuary itu, dan tidak seorang pun menganggapnya penting, termasuk Professor Gat. Ny. Gat mengatakan bahwa ketika suaminya mendapatkan isi makam tersebut, suaminya berpendapat bahwa ini adalah makam Yesus dari Nazaret. Karena ia adalah saksi hidup yang selamat dari kekejaman Nazi, ia tidak mengatakan apa-apa. Ia takut jika ia mengatakan sesuatu, gelombang anti-semit akan berkobar.

 

5.       Ahli patina (saya lupa namanya karena ia duduk di antara para hadirin, bukan di atas mimbar) mengatakan mungkin kenyataan bahwa ossuary milik Yakobus dan yang lain di Makam Talpiot mempunyai patina yang sama mempunyai arti penting. Terlebih lagi karena ossuary Talpiot setengahnya tertimbun tanah dan makam itu telah terusik. Ia mengatakan bahwa sampel acak yang telah diuji terbukti kurang banyak – diperlukan 50 ossuary lagi untuk diuji, dan juga kuburan di sekitar Makam Talpiot harus diuji juga. Jadi, masih banyak yang harus dilakukan untuk menghubungkan ossuary Yakobus dengan Makam Talpiot. Tetapi itu bukanlah ossuary ke-10 yang ditemukan oleh Gat. Yang ke-10 itu polos, tidak bertanda dan sudah rusak. Para arkeolog sangat verbal dan yakin akan hal ini. Mungkinkah ada ossuary lain yang telah dijarah dari makam ini sebelum kedatangan Gat? Tidak ada yang tahu. Masih banyak tes yang harus dilakukan untuk mengetahui hal ini. Tes ini memakan banyak waktu dan biaya yang besar, jadi masih belum diketahui apakah akan dilakukan atau tidak.

 

6.       Tes DNA yang dilakukan pada ossuary Mariame begitu terkontaminasi, sehingga hasilnya harus diabaikan.

 

7.       Kesimpulan. Kami tidak mengadakan pemungutan suara atau yang seperti itu. Menurut pengamatan saya, kelihatannya ada begitu banyak pendapat yang berbeda-beda, banyak di antaranya berkaitan dengan teologia dan mengapa secara teologis ini tidak mungkin makam Yesus dan keluarganya. Ada beberapa yang mengatakan “tidak mungkin” untuk alasan-alasan yang lain. Sebagian besar orang yang saya jajaki pendapatnya waktu resepsi mengatakan bahwa masih kurang cukup bukti untuk identifikasi positif (dengan berbagai alasan), sehingga mereka respon mereka adalah “sangat skeptis” atau “skeptis”. Akan tetapi, beberapa orang berpendapat kemungkinan besar, atau ada kemungkinan. Ada beberapa akademisi yang berpendapat bahwa kemungkinan ini adalah kuburan Kristen mula-mula, atau yang disebut oleh Professor Charlesworth sebagai makam “suku”, bukan makam “keluarga”.

Last Updated ( Sunday, 09 March 2008 )
 
< Prev   Next >